Selasa, 30 Agustus 2016

Pesona Keindahan Pulau Kapoposang Pangkep Di Balik Lensa Fotografer Sul-sel

Tak perlu diragukan lagi Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) sebagai salah satu Kabupaten dengan ratusan pulaunya memang memiliki keindahan yang tak terkira. Salah satu pulau yang kemarin sempat diabadikan oleh sejumlah Fotografer Sulsel tepatnya dan Media Nasional adalah Pulau Kapoposang. Berikut sejumlah foto karya beberapa fotografer Sul-sel selama di Pulau Kapoposang, Enjoy dan siapkan waktumu untuk menikmati liburan kalian disana. 
Foto By Mizdhan Solutindo 

Sunset Di Sore Hari Pulau Kapoposang By Mizdhan Solutindo
Siapkan Dirimu Untuk Explorer Bawah Laut  
Bersih dan Jernih Membuat Nyaman Berenang di Pulau Kapoposang 
Diving Melihat Terumbu Karang By Ariel Quman 
Nah Indah khan? Pulau Kapoposang bisa menjadi alternatif pilihan wisata kalian yang ingin menyatu dengan laut.  
Share:

Jumat, 26 Agustus 2016

Es Teler 77 Khas Mataram, Kini Ada Di Pangkep Loh !

Cuaca panas di tengah kesibukan bekerja pastinya bikin haus dan kepengen minum yang dingin khan seperti es teler atau aneka juice lainnya. Nah khusus untuk es teler ini sendiri beraneka varian rasa, tapi pada umumnya es teler yang sering kali kita jumpai terdapat campuran buah pepaya, kelapa muda, sagu mutiara, nangka masak, susu, gula merah dan beberapa campuran lainnya yang sesuai dengan selera apalagi jika dibuat sendiri di rumah.


Di Pangkajene sendiri saat ini, penjual es teler pun tak sulit untuk menemukannya. Biasanya penulis sendiri jika ingin minum es teler bakal ke Gazebo atau Taman Musafir tempat nonkrongnya kawula muda-mudi dan pecinta kuliner yang menyediakan aneka menu makanan dan minuman yang segar untuk menghilangkan rasa haus.


Selain Penjual Es teler di gazebo dan tamus yang merupakan langganan penulis saat haus maka tempat lainnya yang saat ini cukup hits adalah kehadiran es teler 77 Khas Mataram yang setahu penulis terdapat di 2 lokasi tapi entahlah barangkali selain 2 lokasi tersebut masih ada lokasi lainnya.

Lokasi es teler 77 Khas Mataram ini yang rasanya cukup berbeda dengan es teler pada umumnya terdapat di Jl. Poros Bungoro dekat posko Dishub dan lokasi lainnya dimana penulis sendiri sering beli ada di Jl. Andi Mauraga Pangkajene, dekat lorong SMA Muhammadiyah dan yang paling menyenangkan penulis karena lokasinya dekat dari kantor hanya 200 meter sama dengan bakso langganan penulis yang cukup dekat, maka lengkaplah sudah setiap mau makan atau minum cukup 5 menit, nyampai deh!


Bagi kalian yang pernah menikmati Es teler 77 Khas Mataram ini di Jalan Andi Mauraga Pangkajene tahu khan yang membedakan es teler ini dengan es teler pada umumnya ? yup dalam campuran es teler ini yang paling membedakan adalah adanya semacam beras (songkolo) ketan hitam plus campuran susu yang rasanya cukup unik.

Pertama kali penulis menikmati es teler ini rasanya cukup aneh juga, songkolo hitam ini di kira tape, tapi semakin larut dalam kunyahan itu ternyata bukan tape, melainkan memang gumpalan songkolo hitam yang menyatu dengan campuran pepaya dan buah lainnya hingga semakin menikmatinya penulis dapat menyimpulkan bahwa disinilah letak perbedaan es teler gazebo dengan es teler khas Mataram ini. Saat penulis mulai kepo kepada penjualnya siapa pemilik sesungguhnya usaha es teler ini apakah orang bugis atau jawa untuk memancing si karyawan menjawab akhirnya si karyawan ini pun menyampaikan bahwa pemiliknya memang orang aseli Mataram bukan aseli orang Jawa apalagi bugis. Dari nama es telernya saja sih sudah bisa di tebak yah, pastilah orang Mataram hahaha.

Nah, jika ingin menikmati es teler 77 khas Mataram ini silahkan datang ke Jl. Andi Mauraga yah dan rasakan sensasinya cukup dengan Rp.5.000, murah khan!
Share:

Rabu, 24 Agustus 2016

Roti Bakar Khas Pammuttu Cuma Ada Di Pangkep

Sejak kecil pesan utama yang sering diberikan oleh Ibu guru saat disekolah adalah “jangan lupa sarapan yah anak-anak” biar tetap sehat dan kuat saat belajar, bahkan pesan ini masih berlaku loh sampai sekarang.

Pesan pentingnya sarapan ini paling sering disampaikan oleh guru TK, sayangnya saya sendiri gak ikut TK hahaha, jadi biasanya cuman denger guru tk aja ngomong kayak begitu, jadi pesan perlunya sarapan ini saya terima dari guru kelas 1 saat mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyahh (MIS) Labakkang.

Bagi anak sekolah usia SD hingga SMP bahkan sampai SMA malah sampai sekarang pun sebenarnya urusan sarapan ini yang paling sering diingatkan oleh Ibu tercinta dirumah kalau bukan nasi goreng yah nasi putih dengan lauk telur dadar goreng atau telur mata sapi yang mengugah selera tapi, terkadang juga sebahagian keluarga khususnya nih di kampungku Tarusang Labakkang kadang menyajikan sarapan tanpa nasi melainkan memilih menyajikan sarapan berupa kue tradisional seperti putu cangkiri, panada, donat, roti goreng dan yang paling kekinian bagi keluarga perkotaan yang cukup modern plus kaya bak sinetron-sinetron di tv sana adalah menikmati sarapan dengan roti tawar yang di bakar lalu dicampur selai coklat, durian dan meses sesuai dengan selera dah pokoknya, dinikmati bersama segelas susu, teh atau kopi, meskipun sebenarnya harga roti tawar tak bermerk itu tidak mahal-mahal amat, lima ribu mah dapat kita dan bukan hanya orang kaya sih yang bisa makan ini wkkwkw.  

Nah, pertanyaannya sekarang apakah menu sarapan para pembaca sekalian setiap harinya di rumah ? atau jangan-jangan para pembaca kita ini karna sudah besar malu untuk sarapan pagi yah ? hayooo....?

Keluarga saya sendiri di rumah memilih sarapan non beras alias bukan nasi, kalaupun sarapan nasi masih bisa di hitung dengan jari dalam sebulan paling dua kali biasanya pun jika Ibu mau “pamer” kalau lagi banyak lauk atau nasi semalam masih bersisa kemudian di sulap menjadi nasi goreng supaya bisa kami nikmati bersama, meskipun kebiasaan kami makan kue adalah sarapan utama.

Yah, sejak puluhan tahun silam kami sekeluarga memilih sarapan dengan kue tradisional yang dijual oleh Tante Lija di kampung tak jauh dari rumah. Beliau sudah menjual kue pas jaman saya masih ingusan di bangku SD, telah menjual aneka kue tradisional seperti yang saya katakan tadi di awal ada kue putu ambon, putu cangkiri, putu yang dibungkus pakai daun, burangasa dan banyak aneka rupa kue deh yang bisa dinikmati bersama teh, susu atau kopi. Sejak usia sekolah dasar hingga menengah saya lupa berapa kali saya menikmati sarapan dengan roti tawar, entahlah tapi itu pernah dan roti tawar saat itu mah gak di bakar yah, makan begitu saja yang penting saat itu mah yang penting kekinian.

Okay sekarang saya akan bahas khusus sarapan dengan roti bakar khas “pammuttu” ini, pasti kalian penasaran khan. Apaan yah ini roti bakar pammutu hahaha.  

Jadi begini, beberapa waktu lalu tepatnya tahun ini sih karena Ibu di rumah sudah begitu lihai membuat kue seperti panada, roti goreng dan donat maka sarapan kue ini tidak lagi harus membeli di warung dekat rumah tadi, malah Ibuku karena hobby sekali bikin kue dan punya warung kelontong di rumah, jajanan seperti kue dianggap penting, kira-kira sepenting mengerti dan memahami kebutuhan warga di kampung yang ingin agar kue-kue ini tetap ada saat dicari, maka ibuku pun berinisiatif selain untuk di makan bersama keluarga saat sarapan pagi, selebihnya dijual di warungnya dan warung langganan kue kami sejak dulu sesuai permintaan, cieee.

Nah karena kemampuan Ibuku membuat kue pun sudah diakui oleh sejumlah pembeli di kampung hingga saat ini, akhirnya ibuku sudah mulai menerima catering kecil-kecilan untuk pesanan kue, pesanannya sebenarnya kebanyakan dari teman atau komunitasku haahahaha. Disisi lain saya pun mengakui kalau kue khususnya panada dan roti goreng buatan ibuku mantap sekali. Tak jarang saya rela menunggu hingga ibu selesai menggorengnya usai sholat subuh, kalau makan panas-panas dengan teh di pagi hari rasanya enak banged sebelum berangkat kerja.

Saya sendiri bisa makan 4 sampai 5 biji deh tuh kue Ibu hehehe. Kadang juga karena sudah bosan barulah aku makan roti tawar bakar khas “pammuttu” ini.

Yup, Roti Bakar Khas Pammuttu ini adalah roti tawar yang seharusnya dibakar dengan alat yang semestinya, itu loh alat kalau di sinetron-sinetron pas di bakar, jika sudah mateng roti ini akan loncat sendiri. Apa sih yah nama alatnya itu, gak faham saya pokoknya ada alatnya deh, dan saya yakin kalian tahu yah yang saya maksud.


Rasanya gak enak adja menikmati roti tawar kalau gak dibakar, padahal saya khan bisa bakar jerami ajah kali yah wkwkkwkw. Nah karena dirumah belum ada alatnya tentulah menggunakan alat tradisional sing penting mah ini roti panas dan bisa di buat layaknya roti bakar yang sering saya beli di cafe atau warkop langgananku saat nyari wifi. Jadilah, ide membakar roti ini diatas wajang (baca: Pammuttu) di bolak balik hingga mateng dan berwarna coklat, lalu ditengah roti dikasi susu coklat atau selai berbagai rasa sesuai dengan selera, nah aku suka coklat dan sesaat kemudian jadi deh ROTI BAKAR KHAS PAMMUTTU ini. Gak kalah deh pokoknya dengan roti bakar yang dijual di luaran sana, karena saya sendiri sudah membuktikannya, ibuku, ayahku dan kucing-kucing kesayanganku pun sangat menyukainya. Kemungkinan roti yang dibuat dari Pammutu ini baru ada di Pangkep hehehe.

Jadi, pastikan mencoba sarapan dengan roti bakar khas pammutu yah, rasanya mantap harganya hemat dan biayanya murah meriah. Selamat Mencoba yah di rumah !
Share:

Selasa, 23 Agustus 2016

3 Warung Bakso Pangkep Yang Rasanya Mantap Habis

Jika kalian bertanya, menu makanan andalanku? maka disini saya berikan jawabannya, catet yah, barangkali jika penulis berkunjung ke daerah kalian ada yang mau traktir jalan-jalan sambil makan, duh mau banged, pokoknya langsung kontak adja yah hehehe and then menu makanan andalanku adalah eng...... ing.....eng.... Bakso.


Yup, Bakso Guys! hampir semua penjual bakso yang ada di daerahku Pangkep pernah saya nikmati rasa gurih dan nikmatnya bulatan yang terbuat dari gumpalan daging sapi itu, sebut saja Bakso di Kampungku Tarusang Labakkang ada Bakso Ceria namanya, jika masakan ibuku tak membuatku betah untuk makan dirumah maka pelarian terbaik adalah ke Bakso Ceria yang tak jauh dari rumah tak butuh sampai 5 menit maka sayapun sudah nyampe di lokasi Bakso ceria ini, biasanya untuk bisa menikmati bakso ini saya pun harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena Ibuku pasti jengkel mengingat beliau sudah masak untukku taunya aku kabur dari rumah untuk makan bakso.

Kemudian, jika ingin agak jauh dari rumah untuk merasakan sensasi lain dari Bakso, maka dengan cukup mengendarai motor tak sampai 10 menit maka sampailah di Erasa dimana Bakso Anda berada. Bakso Anda ini sendiri sebenarnya bakso langganan ketika masih duduk di bangku SMA yang tak jauh dari lokasi tersebut sekitar tahun 2002 yang lalu dan masih tetap eksis hingga saat ini, meski telah berpindah-pindah tempat dari sejak berdirinya hingga sekarang ini tapi jaraknya pun tak jauh dari lokasi sebelumnya, saya faham bahwa lokasi tersebut sangat strategis karena dekat sekolah, puskesmas maupun kantor lurah sehingga pelanggan bakso ini pun banyak.

Nah saat penulis sudah keluar dari Kecamatan Labakkang untuk beraktifitas di Kecamatan Bungoro masuk desa keluar desa selaku pendamping desa CSR PT. Semen Tonasa, maka saat dihinggapi rasa lapar yang begitu berat maka pilihan terbaik adalah singgah makan siang di Bakso Goyang Lidah yang berlokasi di depan SMK Muhammadiyah Bungoro tak jauh dari lampu merah prapatan Bungoro only 200 meter saja kalau tak salah memperkirakan, hahaha.

Karna saya ini double job di dua tempat maka kantor utamaku juga ada 2 tentunya satu di Sapanang Bungoro dan Satu lagi di Mauraga Pangkajene yang menyenangkan dari kedua pekerjaan ini adalah karakternya sama di bidang pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan perempuan di 3 Desa dan 4 Kelurahan yang tersebar di 3 Kecamatan yakni Pangkajene, Minasatene dan Bungoro setiap harinya. Jadi untuk menikmati makan siang mayoritas lebih banyak diluar daripada dirumah. Bukan hanya makan siang juga sih, kadang sarapan dan makan malampun biasanya habis di lapangan.

Ketika saya berada di kantor Mauraga Pangkajene maka saya paling sering menikmati bakso andalanku namanya Bakso Quary, rasanya sumpah enak banged dan yang paling menyenangkan karena lokasinya dekat dengan kantorku, Cuma jalan 5 menit nyampe deh. Pengunjung bakso ini pun selalu full setiap harinya, kadang malah pembeli harus antri sampai 15 menit untuk bisa menikmati bakso ini dan pengunjungnya pun ada yang sengaja datang jauh-jauh dari Labakkang, Segeri atau Ma’rang hanya sekedar untuk makan Bakso di tempat ini.

Kadang saya bertanya, nih penjual ngasi apa yah ke Baksonya kok enak banged, sampai makan siang dan makan malam saya nyaris di Bakso Quary semua. Pun kalau tidak makan bakso hari itu karena teguran stafku dikantor yang mengingatkan jangan makan Bakso trus sesekali makan nasi, barulah saya nyari Nasi. Makanya jangan heran kalau wajahku yang super manis ini udah sebulat Bakso langgananku.

Sang penjual Bakso di tempat ini pula sudah menganggap aku langganan VIPnya. Saya baru datang saja, belum mesan misalnya udah dia tebak aja, “Mbak pasti mau makan Pangsit Bakso” hahahaha. Yah, saya pilih menu Pangsit Bakso setiap kali makan ditempat ini, maklum saya sedikit terpengaruh dengan artikel tentang Mie Instant yang panjang itu katanya gak baik terlalu banyak makan mie,  apalah segalaa macam gituh, maka saya pun lebih bijak memilih mie pangsit saja yang lebih alami proses pembuatannya.

Wets alami dari mana yah, kalau dicampur dengan petsin atau yang lainnya tetap ajah gak alami, gak lucu juga makan Bakso tanpa campuran cabe dan lainnya, hambarlah yah. But whateverlah, yang penting mah aku kenyang dan bisa kembali bekerja, urusan lemak, gemuk dan sejenisnya nantilah belakangan hahaha.  Jadi pastikan kalau kalian ke Mauraga untuk mampir ke Bakso Quary bakso langgananku yah !
Share:

Minggu, 31 Juli 2016

Jakarta oh Jakarta !

Perjalanan pertama kali ke Jakarta tentu menyisahkan banyak cerita seru. Apalagi kalau bukan cerita mengunjungi aneka tempat wisata yang menjadi icon Ibu kota Jakarta. Sebut saja Monas, TMII dan Kota Tua merupakan 3 tempat wisata yang selalu menjadi target kunjungan para pendatang termasuk penulis, setelah melewati proses browsing dan rasa penasaran tinggi seperti apa sih kota Jakarta. Maklum, sebagai orang kampung, Jakarta hanya bisa di pantengin lewat layar televisi dengan aneka image yang terbangun sebagai kota yang rawan banjir juga macet yang sering dikeluhkan warga Jakarta di berbagai media.


Nah, berikut pengalaman penulis saat mengunjungi 3 tempat wisata di Jakarta yang bisa jadi rekomendasi bagi kalian saat akan berkunjung ke Jakarta yah, khususnya kamu yang baru pertama kali datang kemari, kunjungan penulis ke 3 tempat ini hanya satu kali kunjungan pada bulan April tahun 2016 ini.

Monas (Monumen Nasional)

Menyebut kota Jakarta maka yang paling terpikirkan bagi penulis adalah disana ada Monas. Monas yang bisanya hanya terlihat di berbagai berita di televisi seperti ingatan akan adanya seorang politikus yang berjanji akan menggantungkan dirinya di Monas apabila ia terlibat korupsi, nah loh hahaha. Sebahagian berita tentang Monas juga penulis lihat melalui kunjungan teman-teman yang lebih dahulu berkunjung ke Monas entah itu training, kunjungan keluarga dan tujuan lainnya, mereka dengan happy menshare berbagai fotonya di media social seperti facebook, Twitter dan Instagram dengan latar Monas dibelakangnya, dibelakang gedung yang menjulang tinggi dengan ujung puncak semacam keris orang Bugis-Makassar.


Bulan April yang lalu saat mengikuti training terkait bagaimana merancang kebijakan bersama Program MAMPU dan Puskapol UI di Hotel Harris Tebet, penulis mencuri waktu untuk mengunjungi Monumen Nasional dengan ketinggian 132 m (433 kaki) ini yang menurut sejarah didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan Hindia-Belanda dibangun oleh Bapak Proklamator sekaligus presiden pertama kita Soekarno.


Monas saat penulis dan teman berkunjung menggunakan roda dua, ramainya luar biasa, namun disitulah magnet tersendiri dari Monas yang begitu populer bagi warga Jakarta untuk menghabiskan waktunya berlibur atau sekedar melepas lelah setelah seharian berkutik dengan pekerjaan atau kemacetan di jalan raya.

Memasuki kawasan Monas bersama teman yang penulis daulat sebagai local guide ini karna kebetulan dia sudah lama di Jakarta nyari nafkah buat modal nikah hahaha meski tepatnya sih dia stay di Bekasi dan butuh waktu sekitar 45 menit untuk bisa sampai di lokasi training penulis mengantarkan dengan penuh keikhlasan menyusuri kawasan dalam Monas. Just Wanna Say “Thanks Yah Imam Santoso”Sebahagian besar pengunjung menikmati Monas dengan berfoto bersama keluarga, nyantai dengan duduk-duduk dibangku yang tersedia layaknya taman dan sebahagian pengunjung lainnya memilih berkeliling monas dengan kendaraan wisata seperti “odong-odong” layaknya kereta api yang ada di kawasan tersebut.

Sama dengan pengunjung lainnya, penulis pun mengabadikan kunjungan ke Monas ini dengan berselfie dan foto bareng dengan teman yang dibantu oleh pengunjung sekitar, setidaknya jika orang di Kampung bertanya pernah ke Jakarta atau tidak ? maka foto ini akan menjadi jawaban dan bukti yang tak terbantahkan, yah pernah dong sambil narsis hahaha. Di kawasan Monas ini pun kami menikmati makanan khas Jakarta, apalagi kalau bukan kerak telor. 


Gedung Monas ini sesungguhnya dibagian dasar memiliki Museum Sejarah Nasional Indonesia, tapi sayangnya penulis tidak sempat mengunjunginya karena mengejar waktu untuk bisa ke kota Tua Jakarta yang sesungguhnya merupakan tujuan utama kunjungan wisata penulis. Mengapa demikian, karena Kota Tua ini yang paling menarik pemandangannya saat di browsing hehehe, selain itu penulis juga pernah melihat foto teman kerja lainnya yang mengabadikan kunjungannya saat di lokasi tersebut dan itu sumpah indah banged. Entahlah, keindahannya memang pure tempatnya indah atau memang fotogrfernya yang begitu keren mengabadikan foto mereka. Yang jelas Old Batavia (Kota Tua Jakarta) ini keren, sehingga tak ada waktu untuk berlama-lama di Monas.  

Ah sudahlah, setidaknya ada yang terlewatkan dari Monas sehingga menjadi alasan bagi penulis untuk bisa kembali mengunjunginya di waktu yang akan datang. Teman penulis pun sempat mengatakan bahwa Monas akan jauh lebih indah jika disaksikan pada malam hari, disana terdapat lift yang dapat membawa pengunjung ke puncak Monas setinggi 115 meter dan seluruh pemandangan indah Jakarta dapat terlihat dari puncak Monas tersebut. Dan menariknya lagi, mengunjungi Monas tuh bikin happy, betapa tidak, biaya yang dikeluarkan untuk menyaksikan pemandangan Kota Jakarta di Monas cukup  dengan mengeluarkan budget sebesar 5 ribu hingga 10 ribu rupiah. Keren khan ! 

Kota Tua Jakarta (Old Batavia)

Target kunjungan setelah mengabadikan kunjungan di Monas adalah kota Tua Jakarta, jarak dari Monas untuk sampai ke Kota Tua ini hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Sepanjang perjalanan, penulis begitu penasaran dengan spot ini. Hingga tibalah kami di Kota Tua Jakarta. Sesuai dengan namanya saat kaki mulai melangkah menyusuri tempat ini yang terlihat memang adalah bangunan-bangunan yang cukup klasik sehingga mungkin inilah yang menjadi alasan dinamakan kota Tua Jakarta. 


Menurut Wikepedia.org, kawasan wisata ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat serta dijuluki “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur” pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah. Haa...demikian kutipannya yah, hahaha. Nah, pas nyampe disana, kami menyusuri sepanjang jalan di kawasan ini, namanya boleh kota Tua, tapi sesungguhnya kota ini sangat awet muda, gimana tidak? kreatifitas para anak muda yang menggelar dagangannya di sepanjang jalan serta aneka berbagai atraksi yang terdapat di kawasan ini sungguh menarik para pengunjung untuk mengabadikan dirinya. Sebut saja patung manusia dari berbagai karakter yang menjadi hiburan tersendiri bahkan penulis berasumsi mungkin mereka adalah mahasiswa/mahasiswi dari fakultas seni rupa universitas yang ada di Jakarta. Berikut sejumlah foto yang penulis sempat abadikan, enjoy !


Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Jika belum berkesempatan untuk berkeliling Indonesia, tak perlu khawatir. Dengan budget yang jauh lebih murah meriah, kalian dapat menikmati beraneka ragam pemandangan, karakter dan icon berbagai provinsi di seluruh Indonesia dengan kekhasannya cukup di Taman Mini Indonesia Indah. Sama dengan Monas dan Kota Tua, TMII juga merupakan kunjungan pertama kali penulis sehingga cukup eksited mengelilingi kawasan yang luasnya  kurang lebih 150 hektare atau 1,5 kilometer persegi dengan mengendarai Taxi bersama teman. Saking luasnya penulis sempat kebingungan spot mana dulu yang harus kami kunjungin sehingga Mas Panca sopir taxi blue birds yang mengantar kami didaulat jadi local guide ajah sekalian haahaha.  Biar lebih seru dan tulisan ini bernyawa, berikut foto-foto penulis saat di TMII.



Ada beberapa area di TMII yang kemudian kami kunjungin seperti Rumah Adat sejumlah Provinsi seperti Bali, Makassar, Padang, Lampung, kemudian kami juga menyempatkan berfoto di Taman Komodo bersama sejumlah anak TK yang sedang melakukan kunjungan wisata pendidikan, Istana Anak, klenteng Kong Miao, gedung Sasono dan berbagai permainan seperti uji nyali dengan menaiki kereta gantung guna menyaksikan TMII dari ketinggian dan itu amazing guys, meski  sempat deg-degan juga gimana kalau jatuh, khan penulis belum nikah huahahahaha. Selain itu yang paling mengesankan adalah untuk setiap anjungan Provinsi biasanya mereka menggelar festival khusus guna memperkenalkan kebudayaan provinsinya tak terkecuali Provinsi Sulawesi Selatan dengan tarian dan berbagai penampilan menarik lainnya yang menjadi ciri khas provinsi yang dinahkodai oleh Bapak Syahrul Yasin Limpo.  


Dari seluruh kunjungan di TMII yang membuat penulis terkesan saat menonton di gedung Keong Emas dengan layar 3 dimensi menyaksikan film tentang ilmu geologi perjuangan sejumlah pendeteksi gempa dalam menyelamatkan penduduk kota dari berbagai bencana, pokoknya keren deh, pengalaman lainnya saat menikmati makanan favorit penulis bersama teman yang makannya sumpah lelet banged hahaha. Awalnya dengan inisiatifnya mentraktir makan bakso, maka pesanlah kami, berhubung bakso di tempat umum apalagi ditempat wisata dan katakanlah cukup bergengsi ini jauh berbeda dengan  warung langganan penulis di kampung yang jumlah baksonya lebih banyak, maka mau gak mau penulis harus nambah menjadi dua mangkok hahaha. Kenapa Bakso jadi makanan favorit dan istimewa bagi penulis, Ini butuh pembahasan tersendiri, wait and see yeah!


Selebihnya tentu wisata belanja oleh-oleh khas TMII untuk para teman dan kerabat di kampung seperti baju, gantungan kunci dan assesories lainnya. Dan terakhir begitu kami hendak meninggalkan TMII di tengah jalan, kami sempat bertemu dengan Artis si Dede yang lagi sibuk syuting bersama crewnya, gak tanggung-tanggung Mas Panca yang nyopirin kami memprovokasi kami untuk mengabadikan pertemuan kami dengan foto bersama hahaha, akhirnya kami turun dan nyamperin si Dede “Thanks Mas Panca”.  ***
Share:

First Time In Bandung


Kalian warga Pangkep dan sudah pernah berkunjung ke Bandung ? jika yah berarti kita sepakat bahwa Bandung itu memang keren yah, tapi kalau kalian dan traveler lainnya belum pernah ke Bandung semoga artikel ini bisa bercerita pada kalian bagaimana kota Bandung khususnya di pusat kota dan membaca pengalaman penulis untuk pertama kalinya menginjakkan kaki ke kota Bandung ini.
Depan Gedung Sate Kota Bandung

Bandung kota yang terkenal dengan kemajuan fashionnya sehingga dijuluki dengan Paris Van Java, kota yang memiliki tempat nongkrong serta aneka tempat wisata yang banyak di kunjungi pengunjung dari luar kota, namun yang paling penting ketika kamu tiba di Bandung adalah mengunjungi Gedung Sate

Kemajuan kota Bandung sekarang di bawah nahkoda si Wali Kota Ridwan Kamil dengan segudang prestasi dan menjadi Inspirasi bagi banyak kepala daerah di Indonesia menjadikan penulis sebagai Orang Pangkep pun tertarik untuk mengunjungi kota ini sejak lama namun karena tidak adanya kegiatan yang mengharuskan ke Bandung dan budget juga belum PD kesana jadi tercancel melulu hingga belum lama ini tepatnya bulan Mei yang lalu akhirnya berkesempatan juga kesana dan menikmati suasana Bandung untuk pertama kalinya euy!. 

Nah bagi kamu yang pertama kali ingin mengunjungi Kota Bandung tentu harus searching terlebih dahulu jarak tempuh ke Bandung dan berbagai sudut kota Bandung yang ingin dikunjungin mulai dari tempat wisata atau yang jadi trade mark kota ini dan yang paling penting juga adalah wisata kulinernya dan tempat membeli oleh-oleh khas Bandung. Berikut beberapa tips penulis yang bisa kamu lakuin sebelum mengunjungi Kota Bandung

Budget Kunjungan

Namanya melakukan kunjungan ke suatu daerah atau kota tentunya persiapan bunget itu penting agar kita bisa memperkirakan pengeluaran yang akan digunakan selama berjalan-jalan di kota tujuan. Mulai dari kebutuhan ticket pesawat pulang dan pergi, biaya transportasi, penginapan, masuk kawasan wisata, beli oleh-oleh dan kebutuhan penting atau gak penting lainnya yang tiba-tiba menarik mata secara spontanitas (biasanya situasi ini kita katakan tiba-tiba kesihir makhluk halus wkwkkwkw).

Sekedar info juga, saat penulis ngunjungin kota Bandung pun memilih memanfaatkan waktu pelatihan yang di sponsorin hehehe. Jadi ceritanya pelatihannya tuh nanti tanggal 10 Mei di Jakarta, Alhasil memilih datang lebih awal di tanggal 7 mei sebelum training untuk bisa ke Bandung jalan-jalan dahulu adalah salah satu strategi penulis, tentunya setelah berkoordinasi dengan kepanitiaan training yah, bisa atau ngaknya datang lebih awal hehehehe dan akhirnya yah bisa-bisa saja tapi nanti bisa check-in di hotel training pas tanggal 9 atau 10nya, jadilah tanggal 7 dan 8 Mei menghabiskan waktu di kota Bandung ini (tips cerdik ala Nhany Rachman Khan) 

Pertama kali ke Bandung tentu dari Makassar penulis memilih lending di Bandara Soekarno Hatta maka sesampainya dibandara jarak tempuh yang harus dilewati untuk bisa ke Stasiun Kereta Api Gambir menuju Bandung itu sekitar satu jam. Dan kendaraan yang bisa digunakan sesungguhnya bisa bus atau taxi tergantung kebutuhan dan budget yah. 

Kereta Argo Parahyangan yang penulis tumpangi ke Bandung

Penulis sendiri memilih taxi biar cepat karena harus mengejar jadwal keberangkatan Kereta Api Argo Parahyangan bersama salah seorang teman yang kita beri nama Mas Imam hahaha (namanya memang imam kok 100 %) yang sudah membantu penulis menyiapkan sejak awal ticket kereta Api dan penginapan di Bandung yang dibelinya secara online semua.

My Friend Imam Santoso from Pasti masih Jomblo loh Ahahaha

Cowok penggemar Datok Siti Nurhaliza si Imam
Info gak penting untuk pembaca adalah temen saya ini adalah temen lama yang baru berjumpa lagi setelah terpisah kurang lebih 5 tahunan di kota kendari kala itu, nah karna si teman yang super baik ini ingin membahagiakan teman lamanya yang jauh-jauh datang dari Kampung Pangkep dan pertama kali ke Bandung wkwkkwkww, maka di fasilitasilah si penulis.

Oh iya, jika kalian bertanya berapa biaya taxi dari bandara ke Stasiun Gambir maka jawabannya adalah sekitar 130 ribuan lebih dan disaranin naik taxi Blue Birds adja yah (Endorse yah hahaha).

Nah, pertanyaannya sekarang kenapa penulis memilih kereta Api untuk ke Bandung dan kenapa gak bus saja ? Maka jawabannya adalah karena si penulis gak pernah naik kereta Api seumur hidupnya, so mau nyobain dong rasanya hehehehe, mumpung ke Kota gituh (orang kampung khan gitu mah gayanya, hihihi). Dan yang juga yang penting yang harus kalian yang hoby jalan untuk diketahui adalah biaya ticket kereta Api dari Stasiun Gambir ke Bandung adalah 120.000.

Menikmati perjalanan dengan kereta Api ke kota Bandung untuk pertama kalinya tentu jadi pengalaman yang menyenangkan. Nah, jika penulis ditanya, bagaimana perasaan penulis mengendarai kereta Api maka jawabnya adalah berisik banged hahaha namun semuanya terbayarkan saat melihat pemandangan indah sepanjang perjalanan. Jarak tempuh yang cukup lama sekitar 4 jam, membuat penulis banyak mengabadikan tempat-tempat indah tersebut menggunakan kamera handphone. Jadi, bagi kamu yang hoby travelling alat berupa kamera gak boleh gak ada saat akan menikmati kunjungan ke sebuah kota.

Salah satu pemandangan yang diambil dengan kamera sepanjang perjalanan di kereta

Penginapan Murah Meriah


Jika kalian sudah tiba di Bandung maka tentunya harus nyari penginapan yang sebaiknya gak usah milih yang mahal-mahal, sayang kalau ngaku seorang traveller tapi nginapnya di hotel atau penginapan dengan harga selangit. Helloooowww....mau liburan atau mau travelling nih, hahaha.


Selama di Bandung, penulis memilih penginapan dengan harga murah meriah tepatnya di Pondok Ayuni (searching sendiri yah alamatnya, ada kok) harga kamar 200ribu semalam dengan double bed, nah berhubung penulis ke Bandung dengan teman cowok jadinya gak bisa patungan bayar kamar, yang ada kami masing-masing pesan satu kamar. 

Pondok Ayuni 200 ribu semalam Double Bed wkwkwkwk

Sarapan Pagi Pondok Ayuni, Nasi Goreng dan Teh Manis
Nah, kalau kamu ke Bandung dan berangkat dengan teman “sejenis” wkwkwkw tentulah biaya kamar lebih murah bisa patungan 100ribu perorang (catet yah). Saran penulis buat kamu yang bakal ke Bandung sebaiknya untuk penginapan bisa booking lebih awal secara online agar lebih aman jalan-jalannya gak harus ngabisin waktu pas nyampe di Bandung nyari penginapan, sementara waktu harus dimanfaatin sebaik mungkin, hal ini juga yang dilakukan oleh teman travelling penulis yang sudah booking sejak awal penginapan sehingga pas nyampai Bandung kami langsung jalan-jalan deh.

Keliling kota Bandung

Alun-Alun dalam kota Bandung


Hari pertama dan pas nyampai di Bandung dalam keadaaan mendung dan gerimis kami akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan ke beberapa sudut kota Bandung. Meskipun letih menempuh empat jam perjalanan dan sampai sekitar jam empat sore, namun semangat travelling gak mati, akhirnya sambil bertanya dengan warga setempat dan berbekal hasil browsing dan google maps akhirnya kami menyusuri tempat yang pertama yakni melewati Pasar Baru dan menuju ke pusat alun-alun kota Bandung yang juga penuh dengan jualan di berbagai sudut jalan. Kami melaksanakan sholat Ashar di Mesjid Agung Bandung yang ramainya subhanallah. Maklum, di tempat ini menjadi pusat wisata belanja aneka pakaian dan sekaligus menjadi tempat nonkrong para jajaka Bandung hingga tak salah ditempat ini pun kami langsung tertarik membeli baju kaos buat oleh-oleh teman di kampung, lucu juga sih baru nyampe langsung shopping hehehehe, shoppingnya sampai bener-bener letih dan memutuskan makan siang yang dirapel makan malam dengan menikmati Bakso di pinggir jalan pusat alun-alun kota Bandung dan tahukah kalian pemirsa, rasanya mantap banged dah. Dan setelah kenyang akhirnya kami menuju Pondok Ayuni untuk beristirahat.








Gedung Sate


Persiapan menjelajah dihari kedua yang sudah terpikirkan malamnya adalah mengunjungi icon Bandung yang paling cetar membahana apalagi jika bukan Gedung Sate. Melihat gambar gedung ini dengan browsing dan pas berada didepan gedung secara langsung bener-bener berbeda citarasanya. Suasana yang masih pagi saat kami menginjakkan kaki di depan gedung sate ini ternyata telah dibanjiri oleh pengunjung lainnya yang juga ingin turut mengabadikan moment dengan berfoto manja di depan Gedung Sate yang juga ternyata merupakan kantor gubernur Jawa Barat. Dan berhubung karna hari libur maka sempurnalah keramaian di depan Gedung Sate ini dengan para pengunjung baik orang Bandung itu sendiri maupun pengunjung dari daerah lainnya seperti diriku. 


Narsis Depan Gedung Sate Kota Bandung tak terlewatkan

Pasar Minggu


Puas berfoto ria di depan Gedung Sate akhirnya penulis memutuskan untuk ke Pasar Minggu yang tak jauh dari lokasi gedung sate ini untuk membeli beberapa pernak-pernik khas Bandung. Yang menarik ternyata menurut pedagang di pasar ini adalah pasar minggu ini hanya di gelar sekali sepekan dan itu juga hanya hari minggu, sehingga pengunjung pasar ini saat dibuka begitu ramai dan padat sekali.



Kami akhirnya menjatuhkan pilihan untuk membeli beberapa assesories seperti kalung dan gantungan kunci khas Bandung euy dan setelah berpanas-panas ria dan berdesakan dalam pasar menikmati suasana hiruk pikuk pasar akhirnya kami mencoba menikmati makanan khas Bandung yakni Cilok dan es Kelapa Muda sambil melepas lelah dan berbincang dengan pemilik warung yang udah manggil penulis dengan sebutan teteh hahaha.


Menikmati Cilook dan Es Kelapa Muda depan Pasar Minggu

Beli Assesories untuk temen-temen di Kampung Pangkep

Museum Pos Indonesia


Beberapa tempat yang cukup berdekatan untuk dikunjungi dengan waktu yang terbatas mengingat petang kami harus meninggalkan kembali kota Bandung untuk ke Jakarta, jadi beberapa tempat yang jaraknya cukup berdekatan seperti Gedung Sate, Museum Pos Indonesia dan Museum Geologi Bandung menjadi alternatif yang harus dikunjungi. Khusus untuk Pos Indonesia, penulis hanya mampir didepan halaman museum dan berfoto ria hahahaha.



At Museum Pos Indonesia Bandung

Meseum Geologi Bandung

Dua tempat yang telah dikunjungi yakni Gedung Sate dan Pos Indonesia maka tempat selanjutnya adalah Museum Geologi Bandung. Ditempat ini kami sempat masuk menikmati beberapa peninggalan sejarah yang berhubungan dengan geologi seperti sisa debu dan barang pasca Gunung Merapi, gempa, batu ratusan tahun serta berbagai cerita sejarah posil masa lampau dan kecanggihan teknologi pencegah gempa yang sudah dirancang guna mendeteksi gempa bumi.







At Museum Geologi Bandung

Nah, museum ini sendiri berlantai dua, dilantai pertama lebih pada peninggalan bebatuan dan sejarah hadirnya bumi ratusan tahun silam sedangkan untuk lantai dua kalian bisa melihat pusat sejarah geologi dan proses terjadinya gempa melalui layar monitor dan bangkai peninggalan gunung meletus merapi di Jogjakarta. Tempat ini ramai dikunjungi oleh anak sekolahan maupun anak kuliahan dan para pengunjung luar daerah, ticket untuk masuk ke museum ini terbilang murah kalau penulis gak salah ingat hanya 5ribu – 10 ribu.

Taman Kota Bandung

Setelah seharian mengelilingi beberapa tempat akhirnya kami pun merasakan letih dan memutuskan untuk istirahat di taman kota yang tak jauh dari lokasi tadi. Di taman ini cukup ramai layaknya taman di pusat kota, sepanjang jalan mobil-mobil keren berjualan baju dan assesories lainnya, maka gak salah yah Bandung dikatakan sebagai Paris Van Japa, dimana-mana orang berjualan pakaian yang mencerminkan bahwa fahion di kota Bandung gak pernah mati.



Taman Kota melepas lelah seharian Jalan sampai kaki bengkak

Di taman ada ruang refleksi, dimana berjejer bebatuan untuk melepaskan rasa letih kaki yang terus berjalan dari pagi hingga siang jelang sore, di dalam taman ini pun banyak penjual makanan dan minuman serta layanan bekam yang digelar dengan tikar-tikar khusus layaknya kita sedang piknik, pokoknya menarik untuk kalian mampir menikmati taman kota, suasana pun adem dan bersih dari berbagai sampah.

CIWALK Mall

Nah tempat terakhir yang kami kunjungi sebelum pulang ke Jakarta adalah Mall kebanggan warga Bandung yeah CIWALK, nah karna temen jalan penulis juga begitu jago dengan aplikasi google mapsnya dengan sigap menemukan mall ini, tempat ini pun kita tempuh dengan mengendarai pete-pete tak kurang dari 20 menit dari lokasi awal kami di jantung kota Bandung Gedung Sate dengan tujuan melihat mall kebanggaan Bandung sekalian nonton AADC 2 yang sumpah bikin penasaran pas liat trailernya di teve hadeuuhhh hahaha mumpung ada waktu, soalnya penulis gak bakalan ada waktu pas pulang ke Makassart nanti untuk nonton bareng dengan para unyuers di kantor karna kesibukan pekerjaan juga sekalian nyari makan siang yang udah telat sejam lebih. Tapi maaf penulis gak punya foto narsis saat berkunjung di sini yang ada cuman bekas karcis nonton di XXI Ciwalk Ahahahaa :)

CIWALK yang namanya juga mirip dengan makanan khasnya CILOOK hahaha bener-bener keren baik dari segi design maupun suasananya di banding kota Makassar. Gambaran uniknya adalah aneka kuliner di Mall ini kebanyakan di lantai satu disana kita bisa memilih beberapa rumah makan yang sudah gak asing lagi bagi kita penikmat makanan instant, bahkan penulis sebenarnya juga sempat antri di lantai satu saat pertama kali memasuki mall ini, yeah karna ingin merasakan nikmatnya Bakmi RN itu loh Bakminya si artis Bandung yang paling terkenal Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, namun ternyata antrian dan cara bayarnya lama dan ribet hadeuh, kita batalkan dan terpaksa sambil nunggu penayangan si Nicholas Saputra dan Mbak Dian, makan siang pun jatuhnya ke ayam goreng pak tua.

Yang terlewatkan.......
Berhubung waktu yang sangat terbatas pada kunjungan ini maka penulis hanya bisa berkeliling di pusat-pusat kota karena pas petang kami kembali ke Jakarta dengan menggunakan bus dan biaya untuk naik bus ke Jakarta tentunya lebih murah dibanding kereta Api gak sampai 3 jam kami sudah tiba di Jakarta.

Namun, sesungguhnya beberapa lokasi yang harus terlewatkan pada perjalanan kali ini karna waktu dan jarak yang begitu terbatas dan jauh sehingga urung kita kunjungi. Nah, sebut saja kawah putih ciwideuy, gunung tangkuban perahu, curug dago, Observatorium Bosscha, Danau Situ Patenggang, kampung gajah, paskal food market dan kebun strawberry serta beberapa tempat lainnya yang gak cukup hanya dengan dua hari, minimal sepekanlah kalian di Bandung untuk bisa menikmati semuanya. So, harapan penulis semoga berkesempatan kembali mengunjungi tempat-tempat tersebut di masa yang akan datang bersama sahabat baikku maupun teman-teman lainnya yang pengen berkunjung ke kota Bandung bersamaku. Yuk atur waktumu dan kita ke Bandung lagi 
Share: